sport

Di Balik Kritik Pedas untuk Sananta: Mengapa Herdman Tak Mau Tinggalkan Penyerangnya?

John Herdman tegas bela Ramadhan Sananta dari hujatan netizen. Ini analisis mendalam soal peran tak kasat mata sang striker dan filosofi pelatih.

Penulis:adit
30 Maret 2026
Di Balik Kritik Pedas untuk Sananta: Mengapa Herdman Tak Mau Tinggalkan Penyerangnya?

Bayangkan Anda seorang pekerja yang sudah berusaha maksimal, menyelesaikan tugas-tugas pendukung dengan baik, namun karena tidak mencetak angka di laporan akhir, seluruh jerih payah Anda dianggap nol. Kira-kira begitulah yang mungkin dirasakan Ramadhan Sananta akhir-akhir ini. Di tengah kemenangan gemilang Timnas Indonesia 4-0 atas Saint Kitts and Nevis, justru namanya yang menjadi bulan-bulanan di jagat maya. Tapi, ada satu orang yang dengan lantang membelanya: John Herdman. Bukan sekadar pembelaan formal, melainkan sebuah penjelasan filosofis tentang apa arti sebenarnya ‘berkontribusi’ di lapangan hijau.

Lebih Dari Sekadar Pencetak Gol: Filosofi Herdman yang Terabaikan

Kritik terhadap Sananta berpusat pada satu hal: dia tidak mencetak gol dalam laga tersebut. Dalam narasi sepakbola populer yang seringkali disederhanakan, striker yang tidak gol dianggap gagal. Namun, John Herdman datang dengan perspektif yang sama sekali berbeda. Bagi pelatih asal Inggris itu, sepakbola modern bukanlah permainan 11 individu, melainkan sebuah mesin yang kompleks di mana setiap bagian punya fungsi spesifik. Sananta, dalam pertandingan itu, mungkin bukan bagian yang mencetak angka, tetapi dia adalah penggerak utama yang membuka ruang dan kesempatan bagi bagian lain untuk bersinar.

Herdman dengan gamblang menyebut nama-nama seperti Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, dan Beckham Putra sebagai penerima manfaat dari kerja keras Sananta. Ini adalah sudut pandang taktis yang sering luput dari mata penonton biasa. Kita terpaku pada bola yang akhirnya menyentuh jala gawang, tetapi mengabaikan lari tanpa bola, pressing di lini depan, dan duel fisik yang melelahkan yang dilakukan Sananta untuk mengacak-acak pertahanan lawan. Herdman seolah mengajak kita untuk melihat pertandingan bukan sebagai highlight 3 menit di media sosial, tetapi sebagai narasi 90 menit yang utuh.

Analog Giroud: Pelajaran dari Puncak Dunia Sepakbola

Untuk memperkuat argumennya, Herdman mengambil contoh dari level tertinggi: Olivier Giroud di Piala Dunia 2018. Fakta yang mungkin mengejutkan bagi banyak orang: striker utama Prancis itu tidak mencetak satu gol pun sepanjang turnamen saat Les Bleus akhirnya juara. Nol di kolom gol. Tapi, apakah Giroud dianggap gagal? Sama sekali tidak. Kontribusinya dalam membangun permainan, menahan bola, dan membuka ruang bagi Kylian Mbappe dan kawan-kawan justru dipuji sebagai kunci kesuksesan Prancis.

Dengan menyebut contoh ini, Herdman bukan sekadar membandingkan Sananta dengan Giroud secara kualitas, melainkan mengoreksi cara kita menilai seorang striker. Dia sedang mengatakan, “Lihat, bahkan di panggung paling bergengsi sekalipun, nilai seorang penyerang tidak melulu diukur dari gol.” Ini adalah pelajaran berharga. Dalam analisis statistik modern sekalipun, metrik seperti ‘expected threat’ (xT) dari pergerakan tanpa bola atau ‘pressing success rate’ mulai dianggap sama pentingnya dengan ‘expected goals’ (xG). Sananta mungkin rendah xG-nya di laga itu, tetapi kontribusinya pada xT tim secara keseluruhan bisa jadi sangat signifikan.

Dampak Psikologis: Ketika Kritik Digital Menjadi Beban Nyata

Poin lain yang ditekankan Herdman adalah sisi kemanusiaan dari seorang atlet. “Saya sangat kecewa dengan kritik yang dia terima,” ujarnya. Kalimat ini bukan retorika pelatih yang biasa. Ini adalah keprihatinan nyata terhadap dampak psikologis yang dihadapi pemainnya. Dalam era di mana komentar netizen bisa dibaca langsung oleh pemain, setiap cacian bukan lagi sekadar omongan di warung kopi, melainkan pesan yang langsung masuk ke genggaman tangan sang pemain.

Data dari beberapa studi olahraga menunjukkan bahwa performa atlet sangat rentan terhadap tekanan mental. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Sport Psychology menyebutkan bahwa dukungan sosial positif merupakan prediktor kuat bagi konsistensi performa. Sebaliknya, tekanan dan kritik publik yang masif dapat memicu ‘choking under pressure’, terutama pada momen-momen kritis di depan gawang. Bisa jadi, beban untuk membungkam kritiklah yang justru membuat kaki seorang striker menjadi kaku ketika peluang emas tiba. Herdman, dengan membela Sananta secara publik, sedang mencoba meredam tekanan itu dan membangun ‘safe space’ psikologis bagi pemainnya untuk berkembang.

Membangun Kultur Suporter yang Cerdas dan Supportif

Ajakan Herdman agar suporter “lebih baik sebagai sebuah negara” terdengar seperti seruan yang ambisius. Namun, di balik itu, ada keinginan untuk membangun kultur sepakbola Indonesia yang lebih matang. Sepakbola sukses tidak hanya dibangun dari pemain dan pelatih hebat, tetapi juga dari basis suporter yang memahami permainan secara mendalam. Kritik yang konstruktif berbeda jauh dengan hujatan yang destruktif.

Alih-alih hanya berteriak “ganti Sananta!”, mungkin sudah saatnya kita sebagai penonton belajar bertanya, “Apa peran yang sedang dijalankan Sananta dalam skema Herdman hari ini?” atau “Gerakan tanpa bola apa yang dia lakukan yang membantu gol kedua?”. Pergeseran cara menonton ini akan menciptakan ekosistem yang lebih sehat. Pemain merasa dinilai secara adil, dan diskusi sepakbola kita naik ke level yang lebih substantif, bukan sekadar mencari kambing hitam.

Penutup: Melihat Sepakbola dengan Mata yang Berbeda

Kasus Ramadhan Sananta dan pembelaan John Herdman ini adalah sebuah titik balik yang menarik. Ini bukan sekadar soal satu pemain, melainkan tentang dua cara berbeda dalam memandang olahraga yang kita cintai. Di satu sisi, ada pandangan instan yang menghakimi berdasarkan statistik paling kasat mata (gol). Di sisi lain, ada pendekatan yang lebih holistik, yang melihat sepakbola sebagai seni kolektif di mana setiap gerakan punya makna.

Herdman, dengan segala pengalamannya, memilih cara pandang yang kedua. Dia mengajak kita semua—pemain, media, dan suporter—untuk naik kelas. Pertanyaannya sekarang: siapkah kita menerima ajakan itu? Siapkah kita meninggalkan kebiasaan mudah menyalahkan dan mulai mengapresiasi kerja-kerja tak kasat mata yang justru menjadi fondasi kemenangan? Mungkin, dengan belajar menghargai ‘kontribusi’ ala Herdman, kita tidak hanya akan mendapatkan Timnas yang lebih tangguh, tetapi juga komunitas sepakbola yang lebih bijak dan dewasa. Bagaimana menurut Anda? Mari kita mulai diskusinya.

Dipublikasikan: 30 Maret 2026, 14:30
Di Balik Kritik Pedas untuk Sananta: Mengapa Herdman Tak Mau Tinggalkan Penyerangnya?