Mengapa WFH Hanya Menggarami Laut? Analisis Kritis Kebijakan Hemat Energi yang Terlalu Sederhana
WFH dianggap solusi instan hemat energi, namun Ratna Juwita soroti dampak sosial dan perlunya pendekatan sistemik yang menyentuh sektor prioritas.

Bayangkan Anda mencoba mengosongkan kolam renang dengan menggunakan sendok teh. Itulah gambaran yang muncul di benak saya ketika mendengar wacana menjadikan Work From Home (WFH) sebagai solusi utama penghematan energi nasional. Di tengah rencana pemerintah yang akan dimulai April mendatang, suara kritis dari Anggota Komisi XII DPR, Ratna Juwita Sari, seperti angin segar yang mengingatkan kita: solusi kompleks tidak bisa dijawab dengan pendekatan yang terlalu sederhana.
Lebih Dari Sekadar Memindahkan Lokasi Kerja
Dalam keterangannya akhir Maret lalu, Ratna dengan tegas menyatakan bahwa kebijakan hemat energi seharusnya tidak dibebankan semata pada perubahan pola kerja aparatur sipil negara. "Pendekatan ini terlalu sempit," ujarnya, menekankan bahwa fokus hanya pada ASN justru berpotensi mengabaikan sektor-sektor besar yang selama ini menjadi penyumbang konsumsi energi terbesar. Menurut data Kementerian ESDM tahun 2025, sektor industri menyumbang 47% dari total konsumsi listrik nasional, diikuti oleh komersial 18%, sementara rumah tangga 'hanya' 35%. Fakta ini menunjukkan bahwa menggeser beban dari kantor ke rumah mungkin hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Dampak Rantai yang Sering Terlupakan
Yang menarik dari analisis Ratna adalah perhatiannya pada konsekuensi sosial dan ekonomi yang sering luput dari perhitungan. "Beban biaya listrik rumah tangga justru bisa meningkat," ingatnya. Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Studi dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan bahwa selama masa WFH massal 2020-2021, konsumsi listrik rumah tangga di perkotaan meningkat rata-rata 25-40%, sementara produktivitas di beberapa sektor layanan publik justru menurun. Ada ironi tersendiri ketika kebijakan yang bertujuan menghemat energi justru menciptakan beban baru bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang harus menanggung biaya operasional kerja dari rumah.
Mencari Solusi yang Benar-Benar Sistemik
Ratna tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan alternatif konstruktif. Ia mendorong langkah-langkah yang lebih fundamental, seperti audit energi nasional menyeluruh di sektor publik dan industri. "Perbaiki manajemen energi di gedung-gedung pemerintah," tegas legislator Fraksi PKB ini. Data menunjukkan bahwa gedung pemerintah di Indonesia masih memiliki efisiensi energi 30-40% lebih rendah dibanding standar internasional. Bayangkan dampaknya jika 10.000 gedung pemerintah dioptimalkan—penghematannya bisa setara dengan konsumsi listrik satu kota menengah selama setahun.
Selain itu, Ratna menekankan pentingnya percepatan transisi ke energi terbarukan dan penguatan transportasi massal. "Hemat energi harus berbasis data, berbasis sektor prioritas, dan punya dampak nyata bagi negara," tambahnya. Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa masalah energi bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut keadilan sosial dan keberlanjutan pembangunan.
Opini: Antara Simbolisme dan Substansi
Di sini saya ingin menambahkan perspektif pribadi: yang kita saksikan mungkin adalah gejala dari kebijakan yang terburu-buru mencari solusi yang terlihat. WFH memang memberikan efek visual—jalanan sepi, kantor gelap—tetapi apakah itu mengatasi akar masalah? Sebagai perbandingan, Singapura menerapkan kebijakan efisiensi energi dengan pendekatan berbeda: mereka fokus pada standardisasi efisiensi untuk peralatan elektronik, insentif bagi industri yang mengadopsi teknologi hemat energi, dan investasi besar-besaran pada smart grid. Hasilnya, dalam 5 tahun terakhir mereka berhasil mengurangi intensitas energi per PDB sebesar 15% tanpa perlu mengandalkan WFH massal.
Poin penting lain yang patut kita renungkan adalah aspek keadilan dalam kebijakan energi. Ketika WFH diberlakukan, tidak semua pekerja memiliki kondisi rumah yang mendukung. Bagaimana dengan mereka yang tinggal di rumah sempit dengan fasilitas terbatas? Atau pekerja yang bergantung pada wifi kantor karena akses internet di rumah tidak memadai? Kebijakan yang adil harus mempertimbangkan variasi kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Menuju Transformasi yang Sesungguhnya
Ratna menegaskan komitmen DPR untuk mengawal agar kebijakan penghematan energi tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi menjadi bagian dari transformasi energi nasional yang berkelanjutan. Ini adalah visi yang tepat. Transformasi energi seharusnya bukan tentang mematikan lampu sesaat, tetapi tentang membangun sistem yang lebih efisien, adil, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bersama: apakah kita sedang menyelesaikan masalah energi, atau sekadar memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain? Kritik konstruktif seperti yang disampaikan Ratna Juwita mengingatkan kita bahwa solusi instan seringkali hanya merupakan bantuan sementara untuk masalah yang mendalam. Mungkin sudah waktunya kita berpikir lebih holistik—tidak hanya tentang bagaimana menghemat energi hari ini, tetapi tentang bagaimana membangun ketahanan energi untuk puluhan tahun ke depan. Bagaimana menurut Anda? Apakah kita siap meninggalkan solusi-solusi simbolis dan beralih ke pendekatan yang benar-benar transformatif?
Pada akhirnya, setiap kebijakan energi yang baik harus menjawab tiga pertanyaan mendasar: apakah efektif secara teknis, adil secara sosial, dan berkelanjutan secara lingkungan. WFH mungkin bisa menjawab sebagian dari pertanyaan pertama, tetapi tanpa memperhatikan dua aspek lainnya, kita hanya akan berputar-putar di tempat yang sama. Mari kita dukung langkah-langkah yang lebih berani dan komprehensif—karena masa depan energi kita terlalu penting untuk diserahkan pada solusi yang setengah-setengah.