Tragedi di Tengah Arus Mudik: Kisah Makbulah yang Tak Sampai ke Cianjur
Seorang pemudik ditemukan meninggal di pinggir jalan Cileungsi. Kisah ini mengingatkan kita akan risiko perjalanan mudik dan pentingnya kesiapan fisik.

Pagi itu, udara Cileungsi masih dingin. Kabut tipis menyelimuti Jalan Raya Cibubur-Cileungsi, menciptakan suasana sunyi yang kontras dengan hiruk-pikuk mudik yang biasanya terjadi. Di tengah kesunyian itu, ada seorang lelaki yang terbaring tak bergerak di pinggir jalan. Barang bawaannya masih rapi di sampingnya, seolah-olah dia hanya beristirahat sejenak dari perjalanan panjang. Tapi kenyataannya, Makbulah—pemudik asal Cianjur itu—tidak akan pernah bangun lagi. Kisahnya bukan sekadar berita kriminal, melainkan potret pilu dari tradisi mudik yang sering kali mengabaikan satu hal penting: kesehatan.
Detik-Detik Penemuan yang Mengguncang Warga
Sekitar pukul 04.30 WIB, Uum—seorang warga setempat—baru saja menyelesaikan salat subuh di Masjid Al-Manshurunal Muqorrobun. Dalam perjalanan pulang, matanya menangkap sosok tak biasa di pinggir jalan. "Awalnya saya kira orang lelah, tidur di jalan," ceritanya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Lelaki itu tidak bergerak sama sekali, padahal sudah lama. Jaket ungunya tampak basah oleh embun pagi, dan dua kardus serta tas biru besar tergeletak di dekatnya seperti penanda perjalanan yang terhenti mendadak.
Rasa was-was membuat Uum menghubungi Ketua RT. Bersama beberapa warga lain, mereka mendatangi lokasi. Tapi tak seorang pun berani membangunkan lelaki itu. Ada firasat buruk yang menggantung di udara. Akhirnya, keputusan diambil: laporkan ke polisi. Petugas dari Polsek Cileungsi datang dengan sigap. Hasil pemeriksaan awal mengonfirmasi ketakutan semua orang: Makbulah telah meninggal dunia. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tidak ada perampokan—barang bawaannya masih lengkap, termasuk ponsel dan dompet berisi uang serta identitasnya.
Misteri di Balik Kematian Seorang Pemudik
Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, menjelaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan sementara, korban diduga meninggal karena sakit. "Korbannya adalah pemudik dan meninggal karena sakit," ujarnya singkat. Tapi pernyataan itu justru membuka lebih banyak pertanyaan. Sakit apa? Seberapa parah? Apakah dia berusaha mencari pertolongan? Makbulah berasal dari Kadupandak, Cianjur—perjalanan yang cukup jauh dari Cileungsi. Dia melakukan perjalanan ini sendirian, membawa beban barang yang mungkin mewakili seluruh hasil kerjanya di perantauan.
Yang menarik perhatian saya adalah detail barang bawaan yang ditemukan polisi. Selain tas besar berisi pakaian, ada dua kardus yang mungkin berisi oleh-oleh atau kebutuhan rumah tangga. Ada juga tas selempang dengan ponsel di dalamnya. Bayangkan: di saat-saat terakhirnya, mungkin dia mencoba menghubungi keluarga. Atau mungkin dia merasa tidak enak badan dan berusaha istirahat sebentar, tanpa menyadari bahwa itu akan menjadi istirahat terakhirnya. Barang-barang itu bukan sekadar benda mati—mereka adalah saksi bisu dari sebuah perjalanan yang terputus di tengah jalan.
Refleksi tentang Budaya Mudik dan Kesehatan
Kasus Makbulah ini mengingatkan saya pada data dari Kementerian Kesehatan tahun 2023 yang menyebutkan bahwa selama puncak arus mudik, terjadi peningkatan 40% kasus medical emergency di jalan tol dan rest area. Kebanyakan disebabkan oleh kelelahan ekstrem, dehidrasi, dan penyakit kronis yang tidak terkontrol. Tradisi mudik—yang seharusnya menjadi momen bahagia—sering kali berubah menjadi ujian ketahanan fisik yang berisiko.
Pertanyaannya: seberapa banyak dari kita yang benar-benar mempersiapkan kesehatan sebelum mudik? Kita sibuk memesan tiket, menyiapkan oleh-oleh, merencanakan rute—tapi lupa melakukan medical check-up sederhana. Padahal, bagi pekerja migran seperti Makbulah (berdasarkan lokasi asalnya yang termasuk daerah pengirim TKI), perjalanan mudik bisa jadi merupakan satu-satunya kesempatan pulang dalam setahun atau bahkan beberapa tahun. Tekanan untuk sampai ke kampung halaman sering kali mengabaikan sinyal tubuh yang sudah lelah.
Proses Evakuasi dan Pencarian Keluarga
Setelah proses olah TKP selesai, jenazah Makbulah dievakuasi ke RS Polri untuk autopsi dan penanganan lebih lanjut. Polisi juga segera bergerak menghubungi keluarga di Kadupandak. Bayangkan betapa hancurnya hati keluarga yang menanti kepulangan sang anak, suami, atau ayah—justru mendapat kabar paling buruk. Mereka mungkin sudah menyiapkan kamar, masakan spesial, dan cerita-cerita yang ingin dibagikan. Tapi yang datang bukanlah orang yang mereka tunggu, melainkan berita duka.
Proses identifikasi melalui barang bawaan menjadi kunci. Dompet yang berisi KTP dan dokumen lain memastikan identitas korban. Uang tunai dalam berbagai pecahan yang masih utuh menunjukkan bahwa ini bukan kasus kriminal—ini murni tragedi kesehatan. Polisi menegaskan tidak ada unsur pidana, tapi justru itu yang membuatnya lebih menyedihkan. Kematian yang bisa dicegah seandainya ada perhatian lebih pada kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan jauh.
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Sebagai masyarakat yang juga akan atau pernah mudik, ada beberapa hal penting yang perlu kita renungkan. Pertama, pentingnya medical check-up sebelum perjalanan jauh—terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit. Kedua, kesadaran untuk tidak memaksakan diri. Jika tubuh sudah memberikan sinyal lelah, berhentilah. Cari pertolongan. Ketiga, sistem pendampingan bagi pemudik yang melakukan perjalanan sendirian. Mungkin perlu ada program "teman mudik" untuk saling mengawasi kondisi kesehatan.
Yang paling mendasar: kita perlu mengubah paradigma tentang mudik. Bukan sekadar tradisi yang harus dituntaskan dengan segala cara, melainkan perjalanan yang perlu dipersiapkan dengan matang—termasuk aspek kesehatan. Keluarga di kampung halaman tentu lebih ingin kita pulang dengan selamat daripada cepat tapi dengan risiko tinggi.
Kisah Makbulah mungkin akan tenggelam dalam berita-berita mudik lainnya. Tapi bagi saya, dia adalah pengingat yang nyata. Di balik angka-angka dan statistik mudik, ada manusia dengan cerita, harapan, dan kerentanannya sendiri. Saat Anda membaca artikel ini, mungkin Anda sedang mempersiapkan mudik atau baru saja kembali. Mari kita ambil waktu sejenak untuk merenung: sudahkah kita memperlakukan tubuh kita dengan baik selama perjalanan? Sudahkah kita mendengarkan ketika tubuh kita berkata, "Cukup, aku lelah"?
Jenazah Makbulah akhirnya akan dibawa pulang ke Cianjur—tapi bukan dengan cara yang diharapkan. Semoga tragedi ini tidak terulang. Semoga kita semua lebih bijak dalam melakukan perjalanan. Dan yang paling penting: semoga keluarga Makbulah diberi kekuatan. Karena di tengah gegap gempita mudik, ada satu keluarga di Kadupandak yang justru harus menerima kabar paling pahit: orang yang mereka tunggu telah pergi untuk selamanya, terhenti hanya beberapa puluh kilometer dari rumah.